SENAM NIFAS


PENGERTIAN
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali.
Senam nifas bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar panggul dan otot perut.
TUJUAN
  1. Membantu mencegah pembentukan bekuan (trombosis) pada pembuluh tungkai dan membantu kemajuan ibu dari ketergantungan peran sakit menjadi sehat dan tidak bergantung
  2. berguna bagi semua system tubuh, terutama fungsi usus, kandung kemih, sirkulasi dan paru-paru.
  3. memungkinkan tubuh ibu menjadi sembuh
TATA CARA MELAKUKAN SENAM NIFAS
Senam nifas ini merupakan latihan yang tepat untuk memulihkan tubuh ibu dan bermanfaat juga untuk memulihkan keadaan ibu baik psikologis maupun fisiologis. Latihan ini dapat dimulai sejak hari 1 setelah melahirkan hingga minggu ke enam setelah melahirkan. Latihan ini dilakukan dalam waktu 5-10 kali hitungan setiap harinya dan akan meningkat secara perlahan-lahan. Senam nifas ini dilakukan dengan berbagai macam gerakan dan setiap gerakan mempunyai manfaat sendiri. Gerakan-gerakan tersebut terdiri dari:
Hari Pertama
Sikap tubuh terlentang dan rileks,kemudian lakukan pernafasan perut diawali dengan mengambil nafas melalui hidung dan tahan hingga hitungan ke-5 atau hitungan ke-8 kemudian buang melalui mulut. Lakukan hingga 5-10 kali.
Hari kedua
Sikap tubuh terlentang tapi kedua tangan dibuka lebar hingga sejajar dengan bahu kemudian pertemukan kedua tangan tersebut tepat diatas muka. Lakukan gerakan ini hingga 5-10 kali.
Hari ketiga
Sikap tubuh terlentang tapi kedua kaki agak dibengkokkan sehingga kedua telapak kaki menyentuh lantai. Lalu angkat pantat ibu dan tahan hingga hitungan ke-3 atau ke-5 lalu turunkan pantat ke posisi semula dan ulangi kembali gerakan hingga 5-10 kali.
Hari keempat
Sikap tubuh bagian atas terlentang dan kaki ditekuk ± 45º kemudian salah satu tangan memegang perut setelah itu angkat tubuh ibu ± 45º dan tahan hingga hitungan ke-3 atau ke-5. Lakukan gerakan tersebut 5-10 kali.
Hari kelima
Sikap tubuh masih terlentang kemudian salah satu kaki ditekuk ± 45º kemudian angkat tubuh dan tangan yang bersebrangan dengan kaki yang ditekuk usahakan tangan menyentuh lutut. Gerakan ini dilakukan secara bergantian dengan kaki dan tangan yang lain. Lakukan hingga 5-10 kali.
Hari keenam
Sikap tubuh terlentang kemudian tarik kaki sehingga paha membentuk sudut ± 90º lakukan secara bergantian dengan kaki yang lain. Lakukan 5-10 kali.

INFEKSI PAYUDARA


a. Definisi
Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara.  Pada infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan nanah di dalam payudara).
 Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah kelahiran Penyebab infeksi payudara umumnya disebabkan karena bakteri Stafilokokkus aureus yang secara normal ditemukan di permukaan kulit. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh karena adanya luka lecet, terutama pada puting payudara. Infeksi payudara paling sering ditemukan pada ibu yang sedang menyusui namun tidak menutup kemungkinan wanita yang tidak menyusui pun dapat terkena infeksi payudara. Infeksi payudara pada wanita yang tidak menyusui berasal dari bakteri TBC, bakteri sifilis dan bakteri lainnya yang tidak diketahui. Infeksi payudara terjadi pada jaringan lemak payudara sehingga menyebabkan pembangkakan. Selain itu pembengkakan akan menekan saluran susu sehingga menyebabkan nyeri dan penyumbatan pada infeksi payudara.Dalam masa nifas dapat terjadi infeksi dan peradangan pada mammae terutama pada primipara. 
b.patofisiologi
gejala mastitis non-infeksius:
a)      Ibu memperhatiakan adanya bercak panas atau nyeri area tekan yang akut.
b)      Ibu dapat merasakan bercak kecil yang keras didaerah nyeri tekan tersebut.
c)      Ibu tidak mengalami demam dan merasa baik-baik saja.
Gejala mastitis infeksisus
a)      Ibu mengeluh lemah dan sakit-sakit pada otot seperti flu
b)      Ibu dapat mengeluh sakit kepala
c)      Ibu demam dengan suhu diatas 34C
d)     Terdapat area luka yang terbatas atau lebih luas pada payudara
e)      Kulit pada payudara dapat tampak kemerahan atau bercahaya
f)       Kedua payudara mungkin terasa keras dan tegang(pembengkakan)

 Berdasarkan tempatnya infeksi dibedakan menjadi :
1.      Mastitis yang menyebabkan abses dibawah areola mamae.
2.       Mastitis ditengah-tengah mammae yang menyebabkan abses ditempat itu.
3.      Mastitis pada jaringan dibawah dorsal dari kelenjar-kelenjar yang menyebabkan abses antara mammae dan otot-otot dibawahnya.
c.Pencegahan
Perawatan putting susu pada laktasi merupakan usaha penting untuk mencegah mastitis. Perawatan terdiri atas membersihkan putting susu dengan minyak baby oil sebelum dan sesudah menyusui untuk menghilangkan kerak dan susu yang sudah mengering. Selain itu juga memberi pertolongan kepada ibu menyusui bayinya harus bebas infeksi dengan stafilococus. Bila ada luka atau retak pada putting sebaiknya bayi jangan menyusu pada mammae yang bersangkutan, dan air susu dapat dikeluarkan dengan pijitan.
d.Pengobatan
Segera setelah mastitis ditemukan pemberian susu pada bayi dihentikan dan diberikan pengobatan sebagai berikut :
1.      Berikan kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10 hari.
2.      Sangga payudara
3.      Kompres dingin
4.      Bila diperlukan berikan parasetamol 500 mg per oral setiap 4 jam.
5.      Ikuti perkembangan 3 hari setelah pemberian pengobatan
Bila ada abses, nanah perlu dikeluarkan dengan sayatan sedikit mungkin pada abses, dan nanah dikeluarkan sesudah itu dipasang pipa ketengah abses, agar nanah bisa keluar. Untuk mencegah kerusakan pada duktus laktiferus sayatan dibuat sejajar dengan jalannya duktus-duktus. Atau jika terdapat masa padat, mengeras dibawah kulit yang kemerahan :
1.      Berikan antibiotik kloksasilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari atau eritromisin 250 mg per oral 3 kali sehari selama 10 hari
Drain abses :
1.      Anestesi umum dianjurkan
2.       Lakukan insisi radial dari batas puting ke lateral untuk menghindari cidera atau duktus
3.      Gunakan sarung tangan steril
4.      Tampon longgar dengan kasa
5.       Lepaskan tampon 24 jam ganti dengan tampon kecil
6.      Jika masih banyak pus tetap berikan tampon dalam lubang dan buka tepinya
7.      Yakinkan ibu tetap menggunakan kutang
8.      Berikan paracetamol 500 mg bila perlu
9.      Evaluasi 3 hari

BENDUNGAN ASI


a.Definisi
Bendungan ASI adalah pembendungan air susu karena penyempitan duktus laktiferi atau oleh kelenjar yang tidak dikosongkan dengan sempurna atau karena kelainan pada putting susu (Mochtar, 1996).
Menurut Huliana (2003) payudara bengkak terjadi karena hambatan aliran darah vena atau saluran kelenjar getah bening akibat ASI terkumpul dalam payudara. Kejadian ini timbul karena produksi yang berlebihan, sementara kebutuhan bayi pada hari pertama lahir masih sedikit.Selama 24 hingga 8 jam pertama setelah terlihatnya sekresi lakteal,payudara sering mengaqlami distensi menjadi keras dan berbenjol-benjol.Keadaan ini yang disebut dengan bendungan air susu atau “caked breast”,sering menyebabkan rasa nyeri yang cukup hebat dan bisa disertai dengan kenaikan suhu. Kelainan tersebut menggambarkan aliran darah vena normal yang berlebihan dan penggembungan limfatik dalam payudara,yang merupakan prekusor reguler untuk terjadinya laktasi.
Demam nifas akibat destensi payudara sering terjadi.Roser (1966) mengamati bahwa 18% wanita normal akan mengalami demam post partum akibat bendungan air susu. Lamanya panas berkisar dari 4 hingga 16 jam dan suhu tubuh berkisar antara 38-39C.Ditegaskan bahwa penyebab panas yang lain,khususnya panas yang disebabkan oleh infeksi harus disingkirkan lebih dahulu.
b. Patofisiologi
a)      Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan.
b)      ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata.
c)      ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (Mochtar, 1998).
c. Penatalaksanaan
Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
a)      Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
b)      Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
c)      Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
d)     Perawatan payudara pasca persalinan
e)      Menyangga payudara dengan BH yang menyokong.

Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
a)      Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
b)      Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
c)      Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
d)     Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
e)      Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari puting kearah korpus(Sastrawinata, 2004)
f)       Pemberian analgetik atau kodein 60 mg per oral.

PERSALINAN SECARA CAESAR



Tindakan operasi caesar ini hanya dilakukan jika terjadi kemacetan pada persalinan normal atau jika ada masalah pada proses persalinan yang dapat mengancam nyawa ibu dan janin. Keadaan yang memerlukan operasi caesar, misalnya gawat janin, jalan lahir tertutup plasenta (plasenta previa totalis), persalinan meacet, ibu mengalami hipertensi (preeklamsia), bayi dalam posisi sungsang atau melintang, serta terjadi pendarahan sebelum proses persalinan.
Pada beberapa keadaan, tindakan operasi caesar ini bisa direncanakan atau diputuskan jauh-jauh hari sebelumnya. Operasi ini disebut operasi caesar elektif. Kondisi ini dilakukan apabila dokter menemukan ada masalah kesehatan pada ibu atau ibu menderita suatu penyakit, sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Misalnya ibu menderita diabetes, HIV/AIDS, atau penyakit jantung, caesar bisa dilakukan secara elektif atau darurat (emergency). Elektif maksudnya operasi dilakukan dengan perencanaan yang matang jauh hari sebelum waktu persalinan. Sedangkan emergency berarti caesar dilakukan ketika proses persalinan sedang berlangsung, namun karena suatu keadaan kegawatan maka operasi caesar harus segera dilakukan.
Operasi Caesar Terencana (elektif)
Pada operasi caesar terencana (elektif), operasi caesar telah direncanakan jauh hari sebelum jadwal melahirkan dengan mempertimbangkan keselamatan ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang menjadi pertimbangan untuk melakukan operasi caesar secara elektif, antara lain :
Ø  Janin dengan presentasi bokong : Dilakukan operasi caesar pada janin presentasi bokong pada kehamilan pertama, kecurigaan janin cukp besar sehingga dapat terjadi kemacetan persalinan (FETO PELPIC DISPROPORTION), janin dengan kepala menengadah (DEFLEKSI), janin dengan lilitan tali pusat, atau janin dengan presentasi kaki.
Ø  Kehamilan kembar : Pada kehamilan kembar dilihat presentasi terbawah janin apakah kepala, bokong, atau melintang. Masih mungkin dilakukan persalinan peralat kelaminm jika persentasi kedua janin adalah kepala-kepala. Namun, dipikirkan untuk melakukan caesar pada kasus janin pertama/terbawah selain presentasi kepala. pada USG juga dilihat apakah masing-masing janin memiliki kantong ketuban sendiri-sendiri yang terpisah, atau keduanya hanya memiliki satu kantong ketuban. Pada kasus kehamilan kembar dengan janin hanya memiliki satu kantong ketuban, resiko untuk saling mengait/menyangkut satu sama lain terjadi lebih tinggi, sehingga perlu dilakukan caesar terencana.Pada kehamilan ganda dengan jumlah janin lebih dari dua (misal 3 atau lebih), disarankan untuk melakukan operasi caesar terencana.
Ø  Plasenta previa : artinya plasenta terletak dibawah dan menutupi mulut rahim. Karena sebelum lahir janin mendapat suplai makanan dan oksigen, maka tidak mungkin plasenta sebagai media penyuplai lahir/ lepas terlebih dulu dari janin karena dapat mengakibatkan kematian janin. Plasenta terdiri dari banyak pembuluh darah, lokasi plasenta yang menutupi jalan lahir, sangat rawan dengan terjadinya pendarahan. Apabila terjadi kontraksi pada rahim, maka sebagian plasenta yang kaya pembuluh darah ini akan terlepas dan menimbulkan pendarahan hebat yang dapat mengancam nyawa janin dan ibu.
Ø  Kondisi medis ibu : preeklamsia, kencing manis (diabetes militus), herpes, penderita HIV/AIDS, penyakit jantung, penyakit paru kronik, atau tumor rahim (mioma) yang ukurannya besaratau menutupi jalan lahir, kista yang menghalangi turunnya janin, serta berbagai keadaan lain merupakan hal-hal yang menyebabkan operasi caesar lebih diutamakan.
Ø  Masalah pada janin : Misanya pada janin dengan oligohidramnion (cairan ketuban sedikit) atau janin dengan gangguan perkembangan.
Opereasi Caesar Darurat (Emergency)
Yang dimaksud operasi caesar darurat adalah jika operasi dilakukan ketika proses persalinan telah berlangsung. Hal ini terpaksa dilakukan karena ada masalah pada ibu maupun janin. Beberapa keadaan yang memaksa terjadinya operasi caesar darurat, antara lain :
Persalinan macet
Keadaan ini dapat terjadi pada fase pertama (fase lilatasi) atau fase kedua (ketika Anda mengejan). Jika persalinan macet pada fase pertama, dokter akan memberi obat yang disebut oksitosin untuk menguatkan kontraksi otot-otot rahim. Dengan demikian mulut rahim dapat membuka. Ada teknik lain, yaitu memecahkan selaput ketuban atau memberikan cairaan infus intrafena jika Anda kekurangan cairan /dehidrasi. Jika cara-cara itu tidak berhasil, maka operasi caesar akan dilakukan.
            Jika persalinan macet pada fase kedua, dokter harus segera memutuskan apakah persalinan dibantu dengan vakum atau forsep atau perlu segera dilakukan operasi caesar. Hal yang menjadi   pertimbangan untuk melanjutkan persalinan peralat kelaminm dengan alat (berbantu) atau operasi caesar, tergantung pada penurunan kepala janin didasar tanggul, keadaan tanggul ibu, dan ada tidaknya kegawatan pada janin.
            Persalinan macet merupakan penyebab tersering operasi caesar. Beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan ialah kontraksi tidak lagi efektif, janin terlalu besar semantara jalan lahir ibu sempit, dan posisi kepala janin yang tadak memungkinkan dilakukan penarikan dengan vakum maupun forsep. 
Stres pada janin
Ketika janin stres, dia akan kekurangan oksigen. Pada pemeriksaan klinik tanpak bahwa denyut jantung janin menurun. Secara normal, selama terjadi kontraksi denyut jantung janin menurun sedikit, namun akan kembali ke prekwensi asalnya, jika :
  •          Prolaps tali pusat: jika tali pusat keluar melalui mulut rahim, dia bisa terjepit, sehingga suplai darah dan oksigen kejanin berkurang. Keadaan ini berbahaya jika janin dilahirkan secara normal lewat alat kelamin, sehingga memerlukan tindakan operasi caesar segara.
  •       Perdarahan : Jika Anda mengalami perdarahan yang banyak akibat plasenta terlepas dari rahim, atau karena alasan lain, maka harus dilakukan operasi caesar.
  •         Stres janin berat : Jika denyut jantung janin menurun sampai 70x per menit, maka harus segera dilakukan operasi caesar. Normalnya denyut jantung janin adalah 120/160x per menit.
Teknik Pembiusan
Cara pembiusan ada dua macam, yaitu secara regional atau bius umum.
Pertama, pembiusan secara regional dilakukan pada daerah tulang belakang. Cara ini disebut anestesi spinal. Anda masih sadar namun bagian perut hingga kaki tidak dapat merasakan apapun. Kemudian, sayatan pada bagian perut pun dimulai. Pertama adalah menyayat dinding perut bagian bawah sepanjang kurang lebih 20 cm. Dilanjutkan dengan menyayat dinding rahim sampai bayi tampak. Bayi pun dikeluarkan perlahan dilanjutkan dengan plasenta dan tali pusat. Jika tidak ada komplikasi,semua proses ini memerlukan waktu kurang lebih 20/30 menit. Anda segera pulih pasca operasi.
Kedua, pembiusan secara umum, pada keadaan ini Anda tidak sadar. Pembiusan dilakukan dengan cara memasang alat bantu napas yang disebut intubasi. Selama pembiusan, sistim pernapasan Anda dibantu dan dimonitor dengan alat. Pembiusan secara umum dilakukan jika kondisi Anda tidak memungkinkan untuk dilakukan bius regional/spinal.
Cara Operasi Caesar Dilakukan
Paling sering dibuat sayatan horizontal (mendatar) pada kulit diperut bagian bawah, kadang dilakukan sayatan vertikal, tergantung situasi dan penyulit saat operasi dilakukan, biasanya otot perut tidak perlu dipotong. Selanjutnya dilakukan insisi/sayatan pada rahim, cairan amnion diisap, dan bayi ditarik keluar dengan hati-hati. Biasanya oprasi ini dilakukan oleh dua orang dokter, seorang dokter ahli obstetri dan seorang dokter asisten. Ketika bayi keluar, tali pusat dijepit dan dipotong, lalu plasenta dikeluarkan, dan rahim diperiksa secara menyeluruh. Jika tidak ada riwayat operasi caesar yang menyebabkan perletakan pada rahim atau pengangkatan tumor dirahim sebelumnya, maka sampai pada tindakan ini diperlukan sekitar waktu 15 menit. setelah bayi lahir, plasenta dikeluarkan. Setelah bayi dan plasenta lahir, dokter akan menjahit jaringan yang dipotong tadi. Diperlukan waktu sekitar 30 menit, total tindakan memakan waktu sekitar 60 menit. Jika Anda pernah dioperasi caesar sebelumnya waktu yang dibutuhkan lebih lama, tergantung situasi dan dokter yang menangani Anda. Pada persalinan kembar, butuh waktu 5 menit setiap kali mengeluarkan bayi.
Proses Penyembuhan
Pada hari pertama setelah melahirkan, jika diperlukan, Anda diberikan obat dalam dosis rendah. Beberapa dokter akan membolehkan Anda mulai makan padat dalam 24 jam pertama. Adapula yang menunggu sampai Anda buang angin (kentut) yang menandakan bahwa usus sudah berfungsi normal.
Pada hari kedua, Anda akan merasa tidak nyaman pada perut. Hal ini terjadi karena organ pencernaan kembali beraktipitas secara normal setelah mendapat obat penghilang rasa sakit yang menghentikan aktipitasnya.
Kesembuhan masing-masing ibu berbeda tergantung dari daya tahan dan efek obat bius yang digunakan. Jika selama pemantauan kondisi Anda stabil, maka dokter akan mengijinkan Anda pulang. Jangan lupa kontrol kembali kedokter, kira-kira setelah dua minggu

PENYAKIT SERTA KELAINAN PADA PLASENTA


Kelainan bentuk dan bobot plasenta
Bentuk plasenta yang normal ialah ceper dan bulat, dengan diameter 15-20 cm dan tebal 1,5-3 cm, berat kurang lebih 500 gram.  Kadang-kadang ditemukan plasenta yang kecil pada wanita dengan tekanan darah diastolik 100 mm Hg seperti pada preeklamsi berat.
Plasenta yang besar dan berat ditemukan pada erythroblastosis foetalis dan sifilis sehingga perbandingan dengan bayi jadi 1: 3.  Disamping bentuk yang normal kita dapat menemukan berbagai variasi, misalnya plasenta terdiri dari dua bagian yang dipisahkan oleh selaput ketuban dan disebut plasenta bipartita, bilobata atau plasenta dupleks.  Bila di samping plaenta yang besar di temukan pula plasenta kecil di sebut plasenta suksenturiata.  Antara keduanya dihubungkan dengan pembuluh-pembuluh darah.  Plasenta tambahan ini mungkin dapat tertinggal pada pelepasan plasenta dan menyebabkan perdarahan.  Kita dapat menyangka adanya plasenta suksenturiata dengan memeriksa selaput janin.  Bila terdapat lubang pada selaput janin dekat plasenta dan pada pinggir lubang tersebut ditemukan pembuluh-pembuluh darah yang terkoyak kita harus curiga akan adanya plasenta tambahan.  Bila antara kedua plasenta tidak di temukan pembuluh darah disebut plasenta spuria.  Kelainan bentuk lain ialah plasenta plasenta membranasea, dimana plasenta itu tipis dan lebar, kadang-kadang menutupi seluruh ruang kavum uteri.
Plasenta membranasea dapat menyebabkan perdarahan antepartumdan memberi kesulitan pada kala III karena plasenta itu tipis dan sukar terlepas.  Plasenta sirkumvalata adalah plasenta yang pada permukaan fetalis dekat pinggir terdapat cincin putih.  Cincin ini menandakan pinggir plasenta, sedangkan jaringan di sebelah luarnya terdiri dari villi yang tumbuh ke samping di bawah desidua.  Jadi bukan villus pancang.  Di duga bahwa chorion frondosum terlalu kecil dan untuk mencukupi kebutuhan, villi menyerbu ke dalam desidua diluar permukaan frondosum, plasenta jenis ini tidak jarang terjadi.  Isidensinya lebih kurang 2-18%. Beberapa ahli mengatakan bahwa plasenta sirkumvalata sering menyebabkan abortus dan solutio plasenta.  Bila cincin putih ini letaknya dekat sekali ke pinggir plasenta, disebut plasenta marginata mungkin terjadi adeksi dari selaput sehingga plasenta lahir telanjang.  Tertinggalnya selaput ini dapat menyebabkan perdarahan dan infeksi.  Diagnosis plaenta sirkumvalata baru dapat ditegakan setelah plaenta lahir, tetapi dapat diduga bila ada perdarahan intermiten atau hidrorea.



Kelainan implantasi
Plasenta biasanya melekat pada dinding belakang atau depan rahim dekat fundus.  Jonjot-jonjot menyerbu ke dalam dinding rahim hanya sampai lapisan atas dari stratum spongiosum.  Kalau implantasinya rendah, yaitu disegmen bawah rahim dan menutup sebagian atau seluruh ostium internum maka disebut sebagai plasenta previa (prae=depan, vias=jalan ), jadi artinya di depan jalan lahir atau menutup jalan lahir.  Kalau jonjot-jonjot tersebut menyerbu ke dalam dinding rahim lebih dari batas, maka disebut plasenta akreta. Menurut dalamnya penetrasi dinding rahim plasenta akreta di bagi dalam : plasenta akreta, jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometrium ; plasenta inkreta, jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium; plasenta perkreta, jonjot-jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium.  Plasenta akreta ada yang komplit dimana seluruh permukaan plasenta melekat dengan erat kepada dinding rahim dan ada juga yang persial, dimana perlekatan hanya terjadi dibeberapa tempat saja.
Plasenta akreta dapat menimbulkan penyulit pada kala III, karena sukar dilepaskan dan waktu melakukan tindakan pelepasan secara manual harus hati-hati, karena dapat menyebabkan perforasi.
Penyakit-penyakit pada plasenta
Infrak plasenta. Yang dimaksud dengan infrak plasenta adalah bagian-bagian yang berwarna keputihan, noduler dan keras yang terletak baik pada permukaan fetal, maternal atau kedua-duanya. Terjadinya infrak mungkin disebabkan karena periarteretis atau endarteritis pembuluh-pembuluh darah vili, kemudian terjadi nekrosis pada stroma dan dinding vili serta pembekuan darah dalam ruang interviller.
Ada beberapa jenis infrak plasenta, antara lain : 1). Infrak subkorial seperti pada plasenta marginata atau sirkumvalata; 2). Infrak noduler pada permukaan fetal; jenis ini biasanya tidak mempunyai arti klinis; 3). Infrak yang luas dan tebal dari kotiledon. Dalam hal ini bisa terjadi gangguan nutrisi, sehingga janin lahir dengan berat badan yang lebih kecil (small for date) atau mati dalam kandungan.
Klasifikasi pada plasenta
Sebagai manifestasi proses penuaan dari plasenta terjadi penimbunan garam-garam kalsium seperti kalsium karbonat, kalsium fosfat bercampur dengan magnesium fosfat pada permukaan basal dari plasenta.  Klasifikasi tersebut terletak pada bagian atas desidua baalis terutama sekitar tertanamnya villi, yang sebelumnya telah mengalami degenerasi fibrin.  Kelainan ini tidak mempunyai arti klinik hanya dapat di gunakan sebagai penentuan lokasi plaenta secara radiologik
Tumor Plasenta
Yang termasuk tumor plasenta adalah mikosoma fibrosum, hemangionoma, korioangioma, mola hidatidosa dan kariokarsinoma.  Sepertiga dari dari tumor plaenta berkaitan dengan hidramnion dan prematuritas sehingga angka kematian perinatal tinggi
Disfungsi plasenta
Yang dimaksud dengan disfungsi plasenta adalah keadaan di mana plasenta, baik secara aanatomik maupun fisiologik tidak mampu untuk memberi makan dan oksigenkepada fetus juga untuk mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan secara normal.  Dalam bidang perinatologi hal ini disebut inufisiensi plasenta.  Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada bayi dalam bentuk fetal dismaturity atau intra  uterine growth retardation sehingga menghasilkan small for date baby atau kematian intra uterin.  Bayi small for dates tidak mempunyai vernix casseosa sehingga tampak kering, kurus, berkeriput dan lapisan lemak yang tipis.  Karena kekurangan O2, terjadi pengeluaran mekonium sehingga tampak warna kuning pada kulit, tali pusat dan selaput janin.  Disfungsi plasenta pada umumnya terjadi pada kehamilan dengan resiko tinggi seperti diabetes, hipertensi pada kehamilan, penyakit jantung, serotinus.  Pada kelompok ini perlu diadakan pemantauan janin dalam uterus dengan pemeriksaan estriol, HCG, HPL, ultrasonografi, sterss test, non stress  test, kardiotokografi dan lain-lain.  Hubungan serotinus dan disfungsi plasenta masih kontroversial.  Sebagian besar serotinus lahir normal, tetapi di Inggris di anggap berbahaya karena berkurangnya pemasokan oksigen bagi janin secara tepat.  Mereka melakukan induksi persalinan dan bila tidak berhasil dilakukan persalinan seksio sesarea.  Greenhill menyarankan partus spontan dengan pemantauan yang ketat.